Ruam Pada Kulit Bisa Jadi Gejala Terinfeksi Covid 19

0
56

 

Penulis : dr. Nurul Iska Ulmarika Idris

Dokter Umum (Peraih Gelar Lulusan Terbaik Program Profesi Dokter Universitas Hasanuddin)

Sejak muncul di akhir Desember 2019, virus Corona telah menginfeksi 143.000 jiwa lebih di Indonesia per-Agustus 2020. Banyak laporan dari peneliti dan tenaga medis mengenai virus yang baru saja dikenali ini. Mulai dari cara virus ini muncul, hingga gejala serta komplikasi yang ditimbulkan. Negara-negara di Eropa seperti Italia dan Spanyol kemudian melaporkan kasus outbreak yang meningkat pada pasien yang menderita Covid-19 positif, dimana selain menginfeksi organ pernapasan, sekitar 20% pasien terjangkit  penyakit kulit yang khas. Data kemudian dikumpulkan oleh Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatologis), mulai dari Wuhan, provinsi Hubei, Cina, dan Lambordia, Italia.

Badan kesehatan dunia (WHO) telah mendeklarasikan wabah pandemi global sebagai kasus darurat akibat virus Corona. Covid-19 telah menarik perhatian terkait cara penularan hingga gejala yang ditimbulkan. Sampai saat ini belum ada pengobatan maupun vaksin yang spesifik ditemukan untuk melawan virus Corona.

Gejala yang ditimbulkan akibat terinfeksi virus ini pun bermacam-macam. Demam dengan suhu ≥38°c, nyeri kepala, nyeri menelan, penurunan fungsi indera penciuman, batuk, sesak, mual, diare, hingga munculnya ruam pada kulit tanpa penyebab yang jelas. Ruam kulit adalah perubahan pada tekstur atau warna pada kulit, yang disebabkan oleh peradangan. Di Cina sendiri, hanya 0,2% dari 1099 pasien pada bulan Februari 2020 yang dilaporkan menderita ruam pada kulit. Sementara penelitian JEADV yang dilakukan di Italia, sebanyak 20,4% penderita Covid-19 memiliki gejala ruam pada kulit. Dimana ruam yang muncul hampir sama dengan ruam dari penyakit kulit lain yang disebabkan oleh infeksi virus. Para peneliti akhirnya mengemukakan, bahwa sangat penting untuk mengetahui ruam yang muncul karena banyak laporan terkait pasien Covid-19 yang tidak memiliki gejala pada sistem pernapasan, tetapi justru memiliki ruam pada kulit.

Juga terdapat laporan kasus oleh dermatologis India, dr. KK Aggarwal yang sampai saat ini masih mengumpulkan data dari para pasien positif Covid-19, yang disertai dengan munculnya ruam kulit. Para peneliti di India ini mengatakan bahwa sebagian besar ruam pada pasien dapat hilang 2-3 hari. Hal ini kemudian menjadi perhatian tersendiri, dikarenakan ruam yang dihasilkan dari virus lain, seperti misalnya Herpes maupun Varicella (cacar air) membutuhkan waktu untuk kemudian sembuh dan hilang.

Ruam yang dapat muncul pada Covid-19 bermacam-macam, berikut penjelasannya:

  1. Bercak kemerahan, atau yang biasa disebut dengan Erythemaous Maculo-papular Rash.

 14 dari 18 pasien Covid-19 di Lecco, Italia menderita bentuk ruam kulit ini. Dengan ukuran bermacam-macam, paling besar 10cm. Ruam ini sering muncul disertai dengan demam dan dapat bertahan 5-10 hari. Bercak ini biasanya ditemukan pada punggung belakang dan ekstremitas bagian bawah, seperti paha atau betis.

  1. Urtikaria, atau biduran.

Urtikaria adalah ruam kulit yang tampak seperti bentol yang lebar, dapat berwarna merah atau keputihan dengan ukuran bervariasi. 3 pasien di Italia dilaporkan memiliki ruam kulit ini. 2 studi melaporkan bawhwa urtikaria merupakan gejala yang muncul di masa awal inkubasi sebelum gejala sistem pernapasan muncul.

  1. Vesikel atau bintil berisi cairan, dengan bentuk menyerupai cacar air.

Berbeda seperti bintil berisi cairan yang biasanya gatal pada cacar air, pada Covid-19 bintil ini justru tidak memiliki gejala apapun. Ruam ini dapat timbul 3 hari setelah gejala klasik Covid-19 muncul dan sembuh dengan sendirinya sekitar 8 hari. Setelah ruam tersebut diambil untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dibawah mikroskop, ditemukan bahwa gambaran yang muncul sama dengan gambaran penyakit kulit lain yang disebabkan oleh infeksi virus.

  1. Ruam kulit yang disebabkan oleh kelainan pembuluh darah atau biasa disebut dengan oklusi mikrovaskular.

Rata-rata pasien Covid-19 yang dilaporkan menderita ruam ini memiliki gejala komplikasi lain seperti kelainan ginjal. Juga dapat ditemukan bintik kemerahan yang mengenai jari-jari tangan dan kaki dimana ruam kulit ini lebih sering ditemukan pada pasien berumur remaja awal hingga dewasa akhir. Para peneliti kemudian menyebut ruam ini dengan sebutan ‘covid toes’, karena ruam ini hanya ditemukan pada pasien Covid-19 dan sangat khas.

Di Indonesia sendiri, terdapat laporan kasus penderita Covid-19 yang memiliki gejala ruam kulit, berupa bercak kemerahan yang gatal didaerah wajah dan muncul 3 hari setelah dinyatakan positif Covid-19. Meskipun ruam kulit sebagai gejala khas dari Covid-19 belum dimasukkan ke dalam poin diagnosis , studi akan masih terus berkembang terkait hal ini.

Penting untuk diketahui bahwa ruam-ruam kulit yang muncul ini tidak menularkan Covid-19 secara langsung melalui sentuhan. Juga ruam kulit ini terbukti tidak membahayakan atau mengancam nyawa, sehingga gejala klasik seperti demam dan gejala sistem pernapasan pada Covid-19 tetaplah yang terpenting untuk ditatalaksana. Namun demikian, para dermatologis mulai merekomendasikan agar ruam kulit dimasukkan kedalam poin kriteria dalam mendiagnosis Covid-19, karena gejalanya yang kebanyakan muncul sebelum gejala klasik, sehingga dapat menjadi tanda untuk diwaspadai, terutama dalam langkah penegakan diagnosis.

Jika anda menemukan ruam kulit seperti yang dijelaskan sebelumnya, kemudian disertai gejala khas dari Covid-19, segeralah memeriksakan diri ke pusekesmas atau rumah sakit terdekat. Penting untuk tidak mengobati atau mengaplikasikan obat-obatan terlebih dahulu sebelum berkonsultasi ke dokter. Tenaga kesehatan akan memeriksa ruam kulit anda secara langsung dengan pemeriksaan penunjang tambahan. Lakukanlah langkah pencegahan penularan Covid-19, disertai asupan nutrisi yang cukup di era pandemi seperti sekarang ini. Penting juga untuk menjaga kelembaban kulit dengan mengaplikasikan pelembab serta mengkonsumsi air putih minimal 8 gelas sehari. Lakukanlah tindakan proteksi diri semaksimal mungkin, mengingat virus Corona adalah virus yang masih baru dengan berbagai macam gejala serta komplikasi yang ditemukan setiap harinya, sehingga informasi yang diketahui mengenai efek jangka panjang Covid-19 pun masih sangat terbatas. Patuhi anjuran dan saran pemerintah serta tenaga kesehata disekitar anda.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here